Sesuatu
Yang Mencurigakan
Setelah aku
dan sahabatku, Bima berpisah di pintu gerbang, aku malihat Mini yang sepertinya
sudah daritadi dia menungguku maka…
“Hai, Min… sudah lama ya?” tanyaku khawatir
“Hah?! Gak udah setahun yang lalu…! Ya gak lah lebay
amet setahun semenit juga gak nyampe paling cuma beberapa detik” ejek Mini yang
kelihatannya jengkel karena aku akrab banget sama Bima sampai-sampai hampir
kelupaan kalo Mini nungguin aku
“Yah… jangan marah dong… ya maaf aku gak lupa sama
kamu kok… kan kamu udah aku anggap seperti keluarga aku sendiri…” bujukku biar
Mini gak ngambek lagi
“Hah?! Yang bener nih?! Yaudah ayo ikut gue ke Gereja
kita sembahyang di sana dulu kalo lo udah nganggep gue keluarga sendiri
ayooo…!!!” ledek Mini yang kelihatan serius padahal cuma becanda
“Heeh…??? maksud aku bukan yang agamaku juga ikutan
pindah tapi karena kita sudah akrab dari kecil malah sampai sekarang masih
makanya aku udah nganggep kamu seperti keluargaku… ngerti gak?” Jelasku bijak
Tiba-tiba ada suara seseorang yang berteriak-teriak
memanggil Hans dari belakang kami. Dan yang berteriak itu adalah…
“Hans! lo kemana aja sih? Dari pas istirahat gue
nyariin lo taunya malah disini ngapain sih?” kata Widy teriak-teriak berjalan
menuju Hans
“Ohh… maaf aku tadi lagi gak mau keluar kelas tadi… oh
iya sekarang aku lagi ada acara keluarga tadi aku udah di telepon ibuku suruh
pulang cepet jadi maaf ya…” jelas Hans yang kelihatan ketakutan tapi santai
“Oh… iyadeh kalo lo udah di tag duluan lo ma nyokap lo yaudah sana…” kata Widy yang
terpaksa melepas Hans untuk pulang
Aku dan Mini
melihat mereka berdua dan akhirnya kami saling memandang sambil tertawa dan
pergi meninggalkan sekolah sambil lari ketakutan menuntun sepeda setelah
mengambil dari parkir sepeda (takut dipanggil sama bu Inna)
“Hmm… kita pergi kemana nih? Yang enak?” kata Mini
bertanya padaku
“Hmm… ke rumah kamu aja,
sekalian aku pilihin baju yang cocok buat kamu besok… J” kataku memberi ide
“Ok… boleh-boleh aja… tapi lo aja yang ngedandanin gue sekalian
biar keliatan cantik gitu… hehehe” pinta Mini manja
“Hmm… No problem….
Kalo masalah itu sih aku yang udah biasa jadi, don’t worry aja deh… ok!” jawabku santai
“It’s ok… ;)”
jawabnya setuju
Sambil kami ketawa-ketiwi
becanda dan cerita-cerita lucu selama kami berjalan menuju rumah Mini (rumah
Mini dengan sekolah lumayan jauh juga tapi kalau sambil bersenda gurau begini
tak terasa yang seharusnya jauh terasa dekat).
Tapi firasatku mengatakan ada
yang mengikuti kami dari tadi entah siapa yang pasti firasatku menunjukan 2
orang entah Bima atau Hans… Hah… sudah ah… gak usah mikirin begituan dan lagi
pula kalo Bima dia lagi mengagumi seseorang di kelas entah siapa dia (semoga
bukan aku…) yang pasti aku jangan ke GR-an
dulu deh ntar malah gimana gitu jadinya… tapi kalo Hans aku gak tau soalnya
kami gak begitu dekat maupun kelas kami sama. Tapi kalo dari sifatnya sekarang
dia kelihatannya mau ngedeketin Mini nih… (wah… ketularan Mini deh… ^^). Karena
aku penasaran aku pun menengok ke belakang dan alhasil…
“Lo kenapa? Emang ada apa di belakang sana?” Tanya Mini
padaku sambil ikut-ikutan menengok ke belakang
“Hah?! Nggak kok… perasaan tadi ada yang ngikutin kita tapi
gak tau siapanya” jawabku yang penasaran daritadi
“Oh yaudah… biarin aja lah… paling Cuma persaan lo doang… kan
belum tentu bener kan…?” kata Mini bijak
“Hmm… iya juga sih… tapi kalo beneran gimana?” tanyaku balik
“Bisa jadi juga kalo beneran tapi biar lebih pasti kita
paeriksa aja yuk… tadi lo liat dia sembunyi di mana?” kata Mini yang kemudian
mengajakku mencari orang itu
“Hmm… kalo gak salah disini deh…” sambil menunjuk ke arah
semak-semak yang berbentuk hati dan alhasil…
“Mana? Gak ada apa-apa nih… berarti tadi Cuma persaan lo
doang atau jangan-jangan…” kata-kata Mini terhenti dan kami saling bertatap
ketakutan
HUUUAAA…. SETAAANNN…!!!
Kami pun lagi terbirit-birit
saking ketakutan dengan tadi sampai kami berlari tak tentu arah dan akhirnya
langkah kami terhenti di sebuah rumah besar dan kelihatannya elegant dan megah meskipun tidak
bertingkat dan ketika kami lihat pintu rumah tidak terkunci, kami yang iseng
mencoba masuk, sampai di halaman kami lihat halaman rumah yang luas melebihi
halaman rumahku dan rumah Mini. Ketika kami hendak masuk ke dalam ada seseorang
yang berteriak dari dalam dan menggunakan bahasa yang asing bagi kita…
“Hey! Qui
êtes-vous?! ce que tu fais ici?! (Hey! Siapa kalian?! Apa yang kalian lakukan disini?! )” kata seseorang yang berada di dalam rumah
Karena
kami tidak tahu bahasanya kami hanya bisa diam. Ketika dia melihat seragam
kami…
“Etes-vous un ami de Hans?” tanya seseorang yang tadi dengan suara ramah
“Maaf
kami tidak mengerti bahasa anda coba bisa anda pakai bahasa Indonesia?” kataku
yang tidak mengerti bahasa itu
“Oh…
maaf apakah kalian teman Hans?” mengulang perkataan sebelumnya dengan
menggunakan Bahasa Indonesia
“Hmm…
Hans? maksud anda Hans De Larmoulitanimo?” Tanya Mini seraya bertanya kepada
seseorang tadi
“Ouais, c'est vrai! Iya itu benar! Hans adalah
adikku dan aku adalah kakaknya” sambil menampakkan diri dari dalam rumah “Mon Maria Larmoulita, salutations! Saya Maria
Larmoulita, salam kenal!” sapa kakak
perempuan Hans yang baru kita kenal
“Allez, s'il vous plaît entrer… Ayo silahkan masuk…” Kata kak Maria ramah
“Ahh… tidak
usah kak… kami hanya kagum melihat rumah kakak makanya kami masuk tanpa
permisi, mohon maaf ya kak… atas kelancangan kami tadi…” kata kami berdua
bergantian
“Oh ... oui ... ça ne fait rien… frère dans la crainte de votre honnêteté et la décence ... Iya… tidak apa-apa… kakak kagum atas kejujuran dan kesopanan kalian…”
kata kak Maria meyakinkan
“Hmm…
kak kami pulang dulu ya… permisi…” ucap kami malu-malu
“Oh oui oui la route attentivement… iya hati-hati dijalan ya” sambut kak
Maria
Kami pun
mencari jalan menuju rumah Mini karena kami tadi lari sampai kesasar ke rumah Hans dan kamipun berbalik mengikuti
jalan yang tadi kami lewati sampai di pertigaan.
“Eh tadi itu beneran kakaknya Hans?
Cantik banget… mana tinggi, putih dan langsing lagi… Huaa… jadi pengen… kalo
gue begitu gimana ya?” harap Mini yang ingin sekali seperti Kak Maria
“Ya sesuai namanya… orang dan
sifatnya juga baik…” ikut memuji
“Oh iya tuh bentar lagi dah nyampe
deh di rumah gue…”
“Ayo siapa yang duluan sampai sana
berhak mendapat Sushi yang banyak…!” akjakku bertanding lari dengan
mempertaruhkan makanan ketika sampai disana
“Ibu gue lagi gak bikin Sushi lagi…”
ledek Mini
“Yaudah kalo gak sushi Kare deh…”
ajakku lagi ikut meledek
“Hmm… ok… gue setuju…” kata Mini
menantang
1… 2… 3…
MULAI…!!!
Sambil lari menuntun sepeda kami
masih saja saling meledek…
“Hahaha… ayo coba kalahin gue kalo
bisa…” ledek Mini sombong
“Hmm… kita liat aja nanti siapa yang
menang…” ledekku balik
Kami terus berlari sampai depan pagar
dan pemenangnya adalah…
“Horeee… gue menang…!!!” kata Mini
girang dan dia yang dapat jatah makan Kare paling banyak
“Hosh… Hosh… Hosh… Hah… akhirnya aku
kalah juga ya sama kamu yang jago lari dari SD…” desahku yang kalah lomba lari
dari Mini
“Hahaha… iya dong gue kan emang juara
lari dari dulu… liat aja piala sama penghargaan gue jadi tambah banyak… Tadaimasu…! (aku pulang!)” sombong Mini
lagi sambil memberi salam masuk ke rumah
“Hah… iya deh… Permisi…!” kataku
sambil masuk ke rumah Mini yang sederhana tapi luas
“Okaerinasai!
(Selamat kembali!) Iya… oh… ada Sani juga yaa. Apa kabarmu nak? Bagaimana
dengan ibu dan keluargamu sekarang?” Tanya tante Misae, ibunya Mini
“Baik tante ibu dan keluargaku juga
baik tante sendiri bagaimana?” tanyaku akrab
“Tante juga baik kok. Oh… Ee… Mini, Te wo arai, tabemono wo junbi
suru koto wo wasurenaide kudasai! (Jangan lupa cuci kedua tanganmu, dan
siapkan makanan)” kata tante Misae
“Hai!
… (Baiklah…)” kata Mini menuruti perintah ibunya
Kami pun
melaksanakan perintah tante Misae. Setelah cuci tangan Mini menyuruhku
menunggunya di meja penghangat bersama tante Misae. Selagi menunggu Mini
menyiapkan makanan aku dan tante Misae mengobrol karena aku sudah lama tidak
bertemu dengan tante Misae apa lagi ke rumah Mini aku juga jarang cuma sekarang
aja karena ada kesempatan (padahal waktu aku SD aku paling sering main dang
menginap di sini dan kalau aku dan ibuku tumben melewati rumah Mini, kami pasti
akan mampir untuk silaturahmi atau kalau ada perlu bantuan)
Beberapa
saat kemuadian…
“Dekite!
(selesai!)” teriak Mini yang mengejutkan kami sambil menaruh makanan di meja
penghangat (meja ini bisa digunakan untuk apa aja, tapi kalau mau makan di meja
ini alat penghangatnya harus dimatikan dahulu baru bias kita makan.
Tempat duduknya juga tidak
menggunakan kursi, melainkan di bantal duduk khusus yang di taruh di lantai,
jadi kita makan di bawah, kalau sekarang di bilang Lesehan. Yang mempunyai meja
ini biasanya masyarakat menengah kebawah yang berada di Jepang
“Ayo Sani duduk, kita makan
sama-sama. Tak perlu malu-malu, anggap saja rumah sendiri…” sanggah tante Misae
ramah
“Eh… Iya… tante…” kataku malu-malu
“Oh iya san lo mau minum apa?” tanya
Mini
“Hmm… aku air putih dingin aja deh…” jawabku sopan
“Ok sip gue bawain… haha wo deko nomimasu ka? (ibu juga mau minum apa?)” Tanya Mini ke
ibunya
“Hmm… anata mizu
wo nomimasu… (Saya juga mau minum air…)” ujar tante Misae
“Hai, Anata shite
kudasai! (baik, saya kerjakan sekarang!)” Kata Mini patuh
Tak lama
kemudian…
“Ehem… Shitsurei
shimasu! (permisi!) air minum yang kalian tunggu sudah tiba…!” kejut Mini
dengan membawa minuman yang selalu ada setiap saat yaitu air putih…
“Terimakasih, Min…” kataku ke Mini
“Arigatoo
gozaimasu, anata onna-no-ko… (terima kasih anakku…)”
“Kochira koso…
Sama-sama…” ujar Mini senang
“Yasudah… karena kita sudah siap untuk makan mari kita
berdoa dulu…” kata tante Misae. Dan berdoapun dimulai (kami berdoa sesuai agama
kami masing-masing)
“……”
“Dekite! Selesai!”
pimpin tante Misae
“Itadakimasu!”
kata kami serempak
Selagi kami
makan memang tidak ada suara (tidak ada yang ngobrol), tetapi detik-detik
selesai makan…
“Oh… Ee… Mini, anata
kyo wa ikimasu... (Oh… Iya… Mini, hari ini saya mau pergi…)”ujar tante
Misae
“Doko e ikimasu
ka? (mau pergi kemana?)” Tanya Mini kepada ibunya yang baru selesai makan
dan hendak membereskan alat makannya.
“Watashi wa
anata no sobo wo shuuyou shitai to omoi, onaji Sani wo tomotsu (Saya
ingin ke rumah nenekmu, kamu jaga rumah dengan Sani)” jelas tante Misae sambil
membereskan alat makannya. Aku pun kaget mendengar namaku disebut.
“Hai! Watashi
wa ie wo mita monodatta (Baik! Saya akan jaga rumah)” jawab Mini mengiyakan
“Hahaoya wa
ima no mama ni shite okimasu. Anata ga ie wo noko shitei okitainabara, doa wo
rokku suru koto wo wasure naide kudasai (Ibu berangkat
sekarang. Kalau ingin pergi, jangan lupa kunci pintu) Sani mohon bantuannya ya…” mohon tante Misae
“Baik tante!” jawabku riang
Kami melanjutkan makan dan setelah selesai, kami
membereskan alat makan kemudian kami pergi ke kamar Mini.
Sampai di kamar, Mini langsung berlari membuka lemari
dan mulai mengeluarkan satu persatu bajunya yang menurut dia cocok ke atas
kasur yang berada tepat di belakanya. Aku yang melihatnya hanya bisa
menggeleng-gelengkan kepala karena baju yang dikeluarkan Mini terlalu banyak.
“Kamu yakin baju-baju ini yang akan dipilih?” tanyaku
sambil duduk di kasur tepatnya di samping tumpukan baju yang dikeluarkan Mini
dari lemari bajunya.
“Ya, menurut lo mana yang bagus? Kalau gue sih yang
ini” kata Mini sambil meletakkan baju tanpa lengan dengan celana pendek ke
badannya
“Hmm… kurasa bajunya harus sedikit sopan deh…”
sindirku berlagak seperti penyelidik
Aku dan Mini sibuk mencari baju yang cocok untuk
dipakai sabtu besok dan sepertinya…
“Ini dia!!!” teriakku dan Mini serentak tangan kami
menemukan baju yang pas untuk Mini pakai. Tak lama kemudian kami tertawa karena
terbebas dari kerumitan yang memusingkan kepala.
Mini memakai baju yang tadi kita pilih dan
memperlihatkan kepadaku pakaian yang dia pakai itu
“Bagaimana, san? Bagus kan baju yang gue pake?” Tanya
Mini girang
“Ba-bagus banget, min! cocok banget sama image kamu!
Terus rambutnya mau diapain tuh?” tanyaku balik sambil melihat rambut mini yang
acak-acakan
Mini mengambil majalah modelnya. Kami mencari-cari
model rambut yang pas untuk Mini saat ini. Tak lama kemudian, kami memutuskan
untuk memulai mencoba salah satu model rambut yang ada di majalah itu.
Sesaat
kemudian…
“Coba kamu berdiri dan menghadap ke cermin” perintahku
kepada Mini agar dia tahu apa yang telah terjadi pada dirinya sekarang
“Astaga!!! Ini bener gue?” Tanya Mini kaget tak
percaya bahwa gadis yang berada di dalam cermin itu adalah bayangan dari
dirinya yang sudah ku-tata rambutnya sehingga menjadi lebih cantik dari
biasanya yang tomboy dengan mengenakan bando putih di kepalanya
“Iya, Mini. Aku yang menatanya saja tak percaya akan
menjadi seperti ini” sanggahku ikut heran dengan perubahan Mini yang drastis
Kami pun telah sepakat dengan dandanan dan pakaian
yang akan dipakai besok. Mini memberi tanda di majalah agar bisa langsung
membuka halamannya
“San, lo mau pulang apa gimana?” Tanya Mini yang
bingung campur cemas
“Aku pulang aja. Toh besok jam 12.30 kan janjiannya?
Besok aku datang kesini jam 10.00 deh…” jelasku agar Mini mengerti
“Baiklah… Oh iya. San, menurut lo siapa yang nulis
surat itu ya?” Tanya Mini penasaran
“Ya! Aku juga kurang tau sih… “ sanggahku ikut
penasaran. Filing-ku mulai bergerak.
“Mungkin yang menulis sutar itu Bima. Soalnya tadi di
kelas wajahnya memerah gara-gara diledekin teman-temannya atau… ah! Sudahlah
jangan memikirkan macam-macam!” gumamku sedikit kesal
Aku berpamitan pulang kepada Mini yang tinggal
sendirian di rumah karena ibunya sedang keluar rumah.
Sampai di rumah aku masih penasaran dan bingung apa
yang akan terjadi besok. Ku lihat handphone-ku
yang sejak tadi belum kubuka ada 4 SMS masuk dari Bima.
From : 8-B Bima Kurniawan S
Send : 16.49
Send : 16.49
Sani kamu
besok ada waktu gak?
kalo gak besok makan siang bareng yuk! Di restoran depan sekolah ya…
kalo gak besok makan siang bareng yuk! Di restoran depan sekolah ya…
Aku sentak kaget melihat isi sms dari Bima tadi aku
kira firasatku memang benar lalu ku lihat lagi SMS selanjutnya
From : 8-B Bima Kurniawan S
Send : 16.52
Send : 16.52
Oh iya aku
baru inget kalo besok ada janji sama temen-temen grup basket-ku di
tempat itu
juga tapi gak lama kok…
Aku menghela nafas panjang sedikit lega mungkin memang
benar firasatku ini. Aku makin penasaran dengan 2 SMS lagi dari bima maka ku
buka…
From : 8-B Bima Kurniawan S
Send : 17.03
Send : 17.03
Aduh!
Hampir lupa waktunya jam 12.30 aku tunggu ya… see you… ☺
SMS ini yang membuatku paling kaget sehingga gak bisa
mengatakan apa-apa karena waktu yang ditentukan Bima sama dengan waktu yang
tertulis di surat tadi pagi. Tinggal 1 SMS lagi yang aku belum baca
From : 8-B Bima Kurniawan S
Send : 17.10
Send : 17.10
NB: nanti kalo
bisa jangan ajak siapapun ya…
Aku makin penasaran dengan maksud Bima mengajakku
makan siang bareng jadi kubiarkan handphone-ku
tergeletak di atas kasur dan aku tertidur setelah mandi dan makan malam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar