Sabtu, 23 Februari 2013

Novel: Someone (Bagian 3)


Sesuatu Yang Mencurigakan
Setelah aku dan sahabatku, Bima berpisah di pintu gerbang, aku malihat Mini yang sepertinya sudah daritadi dia menungguku maka…
“Hai, Min… sudah lama ya?” tanyaku khawatir
“Hah?! Gak udah setahun yang lalu…! Ya gak lah lebay amet setahun semenit juga gak nyampe paling cuma beberapa detik” ejek Mini yang kelihatannya jengkel karena aku akrab banget sama Bima sampai-sampai hampir kelupaan kalo Mini nungguin aku
“Yah… jangan marah dong… ya maaf aku gak lupa sama kamu kok… kan kamu udah aku anggap seperti keluarga aku sendiri…” bujukku biar Mini gak ngambek lagi
“Hah?! Yang bener nih?! Yaudah ayo ikut gue ke Gereja kita sembahyang di sana dulu kalo lo udah nganggep gue keluarga sendiri ayooo…!!!” ledek Mini yang kelihatan serius padahal cuma becanda
“Heeh…??? maksud aku bukan yang agamaku juga ikutan pindah tapi karena kita sudah akrab dari kecil malah sampai sekarang masih makanya aku udah nganggep kamu seperti keluargaku… ngerti gak?” Jelasku bijak
Tiba-tiba ada suara seseorang yang berteriak-teriak memanggil Hans dari belakang kami. Dan yang berteriak itu adalah…
“Hans! lo kemana aja sih? Dari pas istirahat gue nyariin lo taunya malah disini ngapain sih?” kata Widy teriak-teriak berjalan menuju Hans
“Ohh… maaf aku tadi lagi gak mau keluar kelas tadi… oh iya sekarang aku lagi ada acara keluarga tadi aku udah di telepon ibuku suruh pulang cepet jadi maaf ya…” jelas Hans yang kelihatan ketakutan tapi santai
“Oh… iyadeh kalo lo udah di tag duluan lo ma nyokap lo yaudah sana…” kata Widy yang terpaksa melepas Hans untuk pulang
Aku dan Mini melihat mereka berdua dan akhirnya kami saling memandang sambil tertawa dan pergi meninggalkan sekolah sambil lari ketakutan menuntun sepeda setelah mengambil dari parkir sepeda (takut dipanggil sama bu Inna)
“Hmm… kita pergi kemana nih? Yang enak?” kata Mini bertanya padaku
“Hmm… ke rumah kamu aja, sekalian aku pilihin baju yang cocok buat kamu besok… J” kataku memberi ide
“Ok… boleh-boleh aja… tapi lo aja yang ngedandanin gue sekalian biar keliatan cantik gitu… hehehe” pinta Mini manja
“Hmm… No problem…. Kalo masalah itu sih aku yang udah biasa jadi, don’t worry aja deh… ok!” jawabku santai
It’s ok… ;)” jawabnya setuju
Sambil kami ketawa-ketiwi becanda dan cerita-cerita lucu selama kami berjalan menuju rumah Mini (rumah Mini dengan sekolah lumayan jauh juga tapi kalau sambil bersenda gurau begini tak terasa yang seharusnya jauh terasa dekat).
Tapi firasatku mengatakan ada yang mengikuti kami dari tadi entah siapa yang pasti firasatku menunjukan 2 orang entah Bima atau Hans… Hah… sudah ah… gak usah mikirin begituan dan lagi pula kalo Bima dia lagi mengagumi seseorang di kelas entah siapa dia (semoga bukan aku…) yang pasti aku jangan ke GR-an dulu deh ntar malah gimana gitu jadinya… tapi kalo Hans aku gak tau soalnya kami gak begitu dekat maupun kelas kami sama. Tapi kalo dari sifatnya sekarang dia kelihatannya mau ngedeketin Mini nih… (wah… ketularan Mini deh… ^^). Karena aku penasaran aku pun menengok ke belakang dan alhasil…
“Lo kenapa? Emang ada apa di belakang sana?” Tanya Mini padaku sambil ikut-ikutan menengok ke belakang
“Hah?! Nggak kok… perasaan tadi ada yang ngikutin kita tapi gak tau siapanya” jawabku yang penasaran daritadi
“Oh yaudah… biarin aja lah… paling Cuma persaan lo doang… kan belum tentu bener kan…?” kata Mini bijak
“Hmm… iya juga sih… tapi kalo beneran gimana?” tanyaku balik
“Bisa jadi juga kalo beneran tapi biar lebih pasti kita paeriksa aja yuk… tadi lo liat dia sembunyi di mana?” kata Mini yang kemudian mengajakku mencari orang itu
“Hmm… kalo gak salah disini deh…” sambil menunjuk ke arah semak-semak yang berbentuk hati dan alhasil…
“Mana? Gak ada apa-apa nih… berarti tadi Cuma persaan lo doang atau jangan-jangan…” kata-kata Mini terhenti dan kami saling bertatap ketakutan
HUUUAAA…. SETAAANNN…!!!
Kami pun lagi terbirit-birit saking ketakutan dengan tadi sampai kami berlari tak tentu arah dan akhirnya langkah kami terhenti di sebuah rumah besar dan kelihatannya elegant dan megah meskipun tidak bertingkat dan ketika kami lihat pintu rumah tidak terkunci, kami yang iseng mencoba masuk, sampai di halaman kami lihat halaman rumah yang luas melebihi halaman rumahku dan rumah Mini. Ketika kami hendak masuk ke dalam ada seseorang yang berteriak dari dalam dan menggunakan bahasa yang asing bagi kita…
Hey! Qui êtes-vous?! ce que tu fais ici?! (Hey! Siapa kalian?! Apa yang kalian lakukan disini?! )” kata seseorang yang berada di dalam rumah
Karena kami tidak tahu bahasanya kami hanya bisa diam. Ketika dia melihat seragam kami…
Etes-vous un ami de Hans?” tanya seseorang yang tadi dengan suara ramah
“Maaf kami tidak mengerti bahasa anda coba bisa anda pakai bahasa Indonesia?” kataku yang tidak mengerti bahasa itu
“Oh… maaf apakah kalian teman Hans?” mengulang perkataan sebelumnya dengan menggunakan Bahasa Indonesia
“Hmm… Hans? maksud anda Hans De Larmoulitanimo?” Tanya Mini seraya bertanya kepada seseorang tadi
Ouais, c'est vrai!  Iya itu benar! Hans adalah adikku dan aku adalah kakaknya” sambil menampakkan diri dari dalam rumah “Mon Maria Larmoulita, salutations! Saya Maria Larmoulita, salam kenal!” sapa kakak perempuan Hans yang baru kita kenal
Allez, s'il vous plaît entrer… Ayo silahkan masuk…” Kata kak Maria ramah
“Ahh… tidak usah kak… kami hanya kagum melihat rumah kakak makanya kami masuk tanpa permisi, mohon maaf ya kak… atas kelancangan kami tadi…” kata kami berdua bergantian
Oh ... oui ... ça ne fait rien… frère dans la crainte de votre honnêteté et la décence ... Iya… tidak apa-apa… kakak kagum atas kejujuran dan kesopanan kalian…” kata kak Maria meyakinkan
“Hmm… kak kami pulang dulu ya… permisi…” ucap kami malu-malu
Oh oui oui la route attentivement… iya hati-hati dijalan ya” sambut kak Maria
Kami pun mencari jalan menuju rumah Mini karena kami tadi lari sampai kesasar  ke rumah Hans dan kamipun berbalik mengikuti jalan yang tadi kami lewati sampai di pertigaan.
“Eh tadi itu beneran kakaknya Hans? Cantik banget… mana tinggi, putih dan langsing lagi… Huaa… jadi pengen… kalo gue begitu gimana ya?” harap Mini yang ingin sekali seperti Kak Maria
“Ya sesuai namanya… orang dan sifatnya juga baik…” ikut memuji
“Oh iya tuh bentar lagi dah nyampe deh di rumah gue…”
“Ayo siapa yang duluan sampai sana berhak mendapat Sushi yang banyak…!” akjakku bertanding lari dengan mempertaruhkan makanan ketika sampai disana
“Ibu gue lagi gak bikin Sushi lagi…” ledek Mini
“Yaudah kalo gak sushi Kare deh…” ajakku lagi ikut meledek
“Hmm… ok… gue setuju…” kata Mini menantang
1… 2… 3… MULAI…!!!
Sambil lari menuntun sepeda kami masih saja saling meledek…
“Hahaha… ayo coba kalahin gue kalo bisa…” ledek Mini sombong
“Hmm… kita liat aja nanti siapa yang menang…” ledekku balik
Kami terus berlari sampai depan pagar dan pemenangnya adalah…
“Horeee… gue menang…!!!” kata Mini girang dan dia yang dapat jatah makan Kare paling banyak
“Hosh… Hosh… Hosh… Hah… akhirnya aku kalah juga ya sama kamu yang jago lari dari SD…” desahku yang kalah lomba lari dari Mini
“Hahaha… iya dong gue kan emang juara lari dari dulu… liat aja piala sama penghargaan gue jadi tambah banyak… Tadaimasu…! (aku pulang!)” sombong Mini lagi sambil memberi salam masuk ke rumah
“Hah… iya deh… Permisi…!” kataku sambil masuk ke rumah Mini yang sederhana tapi luas
Okaerinasai! (Selamat kembali!) Iya… oh… ada Sani juga yaa. Apa kabarmu nak? Bagaimana dengan ibu dan keluargamu sekarang?” Tanya tante Misae, ibunya Mini
“Baik tante ibu dan keluargaku juga baik tante sendiri bagaimana?” tanyaku akrab
“Tante juga baik kok. Oh… Ee… Mini, Te wo arai, tabemono wo junbi suru koto wo wasurenaide kudasai! (Jangan lupa cuci kedua tanganmu, dan siapkan makanan)” kata tante Misae
Hai! … (Baiklah…)” kata Mini menuruti perintah ibunya
Kami pun melaksanakan perintah tante Misae. Setelah cuci tangan Mini menyuruhku menunggunya di meja penghangat bersama tante Misae. Selagi menunggu Mini menyiapkan makanan aku dan tante Misae mengobrol karena aku sudah lama tidak bertemu dengan tante Misae apa lagi ke rumah Mini aku juga jarang cuma sekarang aja karena ada kesempatan (padahal waktu aku SD aku paling sering main dang menginap di sini dan kalau aku dan ibuku tumben melewati rumah Mini, kami pasti akan mampir untuk silaturahmi atau kalau ada perlu bantuan)
 Beberapa saat kemuadian…
Dekite! (selesai!)” teriak Mini yang mengejutkan kami sambil menaruh makanan di meja penghangat (meja ini bisa digunakan untuk apa aja, tapi kalau mau makan di meja ini alat penghangatnya harus dimatikan dahulu baru bias kita makan.
Tempat duduknya juga tidak menggunakan kursi, melainkan di bantal duduk khusus yang di taruh di lantai, jadi kita makan di bawah, kalau sekarang di bilang Lesehan. Yang mempunyai meja ini biasanya masyarakat menengah kebawah yang berada di Jepang
“Ayo Sani duduk, kita makan sama-sama. Tak perlu malu-malu, anggap saja rumah sendiri…” sanggah tante Misae ramah
“Eh… Iya… tante…” kataku malu-malu
“Oh iya san lo mau minum apa?” tanya Mini
“Hmm… aku air putih dingin aja deh…” jawabku sopan
“Ok sip gue bawain… haha wo deko nomimasu ka? (ibu juga mau minum apa?)” Tanya Mini ke ibunya
Hmm… anata mizu wo nomimasu… (Saya juga mau minum air…)” ujar tante Misae
Hai, Anata shite kudasai! (baik, saya kerjakan sekarang!)” Kata Mini patuh
Tak lama kemudian…
“Ehem… Shitsurei shimasu! (permisi!) air minum yang kalian tunggu sudah tiba…!” kejut Mini dengan membawa minuman yang selalu ada setiap saat yaitu air putih…
“Terimakasih, Min…” kataku ke Mini
Arigatoo gozaimasu, anata onna-no-ko… (terima kasih anakku…)”
Kochira koso… Sama-sama…” ujar Mini senang
“Yasudah… karena kita sudah siap untuk makan mari kita berdoa dulu…” kata tante Misae. Dan berdoapun dimulai (kami berdoa sesuai agama kami masing-masing)
“……”
Dekite! Selesai!” pimpin tante Misae
Itadakimasu!” kata kami serempak
Selagi kami makan memang tidak ada suara (tidak ada yang ngobrol), tetapi detik-detik selesai makan…
Oh… Ee… Mini, anata kyo wa ikimasu... (Oh… Iya… Mini, hari ini saya mau pergi…)”ujar tante Misae
Doko e ikimasu ka? (mau pergi kemana?)” Tanya Mini kepada ibunya yang baru selesai makan dan hendak membereskan alat makannya.
“Watashi wa anata no sobo wo shuuyou shitai to omoi, onaji Sani wo tomotsu (Saya ingin ke rumah nenekmu, kamu jaga rumah dengan Sani) jelas tante Misae sambil membereskan alat makannya. Aku pun kaget mendengar namaku disebut.
“Hai! Watashi wa ie wo mita monodatta (Baik! Saya akan jaga rumah)jawab Mini mengiyakan
“Hahaoya wa ima no mama ni shite okimasu. Anata ga ie wo noko shitei okitainabara, doa wo rokku suru koto wo wasure naide kudasai (Ibu berangkat sekarang. Kalau ingin pergi, jangan lupa kunci pintu) Sani mohon bantuannya ya… mohon tante Misae
“Baik tante!” jawabku riang
Kami melanjutkan makan dan setelah selesai, kami membereskan alat makan kemudian kami pergi ke kamar Mini.
Sampai di kamar, Mini langsung berlari membuka lemari dan mulai mengeluarkan satu persatu bajunya yang menurut dia cocok ke atas kasur yang berada tepat di belakanya. Aku yang melihatnya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala karena baju yang dikeluarkan Mini terlalu banyak.
“Kamu yakin baju-baju ini yang akan dipilih?” tanyaku sambil duduk di kasur tepatnya di samping tumpukan baju yang dikeluarkan Mini dari lemari bajunya.
“Ya, menurut lo mana yang bagus? Kalau gue sih yang ini” kata Mini sambil meletakkan baju tanpa lengan dengan celana pendek ke badannya
“Hmm… kurasa bajunya harus sedikit sopan deh…” sindirku berlagak seperti penyelidik
Aku dan Mini sibuk mencari baju yang cocok untuk dipakai sabtu besok dan sepertinya…
“Ini dia!!!” teriakku dan Mini serentak tangan kami menemukan baju yang pas untuk Mini pakai. Tak lama kemudian kami tertawa karena terbebas dari kerumitan yang memusingkan kepala.
Mini memakai baju yang tadi kita pilih dan memperlihatkan kepadaku pakaian yang dia pakai itu
“Bagaimana, san? Bagus kan baju yang gue pake?” Tanya Mini girang
“Ba-bagus banget, min! cocok banget sama image kamu! Terus rambutnya mau diapain tuh?” tanyaku balik sambil melihat rambut mini yang acak-acakan
Mini mengambil majalah modelnya. Kami mencari-cari model rambut yang pas untuk Mini saat ini. Tak lama kemudian, kami memutuskan untuk memulai mencoba salah satu model rambut yang ada di majalah itu.
Sesaat kemudian…
“Coba kamu berdiri dan menghadap ke cermin” perintahku kepada Mini agar dia tahu apa yang telah terjadi pada dirinya sekarang
“Astaga!!! Ini bener gue?” Tanya Mini kaget tak percaya bahwa gadis yang berada di dalam cermin itu adalah bayangan dari dirinya yang sudah ku-tata rambutnya sehingga menjadi lebih cantik dari biasanya yang tomboy dengan mengenakan bando putih di kepalanya
“Iya, Mini. Aku yang menatanya saja tak percaya akan menjadi seperti ini” sanggahku ikut heran dengan perubahan Mini yang drastis
Kami pun telah sepakat dengan dandanan dan pakaian yang akan dipakai besok. Mini memberi tanda di majalah agar bisa langsung membuka halamannya
“San, lo mau pulang apa gimana?” Tanya Mini yang bingung campur cemas
“Aku pulang aja. Toh besok jam 12.30 kan janjiannya? Besok aku datang kesini jam 10.00 deh…” jelasku agar Mini mengerti
“Baiklah… Oh iya. San, menurut lo siapa yang nulis surat itu ya?” Tanya Mini penasaran
“Ya! Aku juga kurang tau sih… “ sanggahku ikut penasaran. Filing-ku mulai bergerak.
“Mungkin yang menulis sutar itu Bima. Soalnya tadi di kelas wajahnya memerah gara-gara diledekin teman-temannya atau… ah! Sudahlah jangan memikirkan macam-macam!” gumamku sedikit kesal
Aku berpamitan pulang kepada Mini yang tinggal sendirian di rumah karena ibunya sedang keluar rumah.
Sampai di rumah aku masih penasaran dan bingung apa yang akan terjadi besok. Ku lihat handphone-ku yang sejak tadi belum kubuka ada 4 SMS masuk dari Bima.

From : 8-B Bima Kurniawan S
Send  : 16.49
  
  Sani kamu besok ada waktu gak?
  kalo gak besok makan siang bareng yuk! Di restoran depan sekolah ya…

Aku sentak kaget melihat isi sms dari Bima tadi aku kira firasatku memang benar lalu ku lihat lagi SMS selanjutnya

From : 8-B Bima Kurniawan S
Send  : 16.52
  
  Oh iya aku baru inget kalo besok ada janji sama temen-temen grup basket-ku di
  tempat itu juga tapi gak lama kok…

Aku menghela nafas panjang sedikit lega mungkin memang benar firasatku ini. Aku makin penasaran dengan 2 SMS lagi dari bima maka ku buka…

From : 8-B Bima Kurniawan S
Send  : 17.03
  
  Aduh! Hampir lupa waktunya jam 12.30 aku tunggu ya… see you…

SMS ini yang membuatku paling kaget sehingga gak bisa mengatakan apa-apa karena waktu yang ditentukan Bima sama dengan waktu yang tertulis di surat tadi pagi. Tinggal 1 SMS lagi yang aku belum baca

From : 8-B Bima Kurniawan S
Send  : 17.10
  
  NB: nanti kalo bisa jangan ajak siapapun ya…

Aku makin penasaran dengan maksud Bima mengajakku makan siang bareng jadi kubiarkan handphone-ku tergeletak di atas kasur dan aku tertidur setelah mandi dan makan malam.

Tidak ada komentar: